Ini adalah sedikit catatan dari Bang Haji. Lebih tepatnya bang Haji Riki Syolihin, abang bagi seluruh mahasiswa mahasiswi Kansa. Beliau adalah rektor yang luar biasa bagi kami. Dan ini adalah sedikit catatan dari perjalanan beliau bersama mahasiswa/i Kansa yang menjadi relawan di Lombok.

Senin bertemu senin, sejak kami berangkat tgl  8, hari Senin sore sudah mendarat di bandara Lombok. Hari ini sudah bertemu senin kembali. Hari ini tanggal 15 Oktober 2018.

“1000 relawan lagi seperti ini kami butuhkan, bahkan lebih”, kata bapak Agus, kepala Dispenda Lombok saat menyambangi kami di tenda relawan, desa Santong.

Diskusi ringan dan hangat sejak habis ashar hingga kami sholat Maghrib berjamaah di tenda, apalagi ternyata beliau adalah salah satu pakar terapi yg sangat aktif, diskusi terasa  menimba ilmu dan pengalaman baru.

Di tenda yang kami tempati setiap hari selalu ramai setiap malamnya, baik untuk diskusi ringan, pelatihan TOT dan masyarakat yg ingin terapi healing.

Adalah kopi, yg menjadi bahan awal diskusi kami setelah sama-sama berkumpul di tenda relawan, karena tradisi di desa ini adalah wajib menyuguhkan kopi bagi tamu. “Hari ini berapa gelas kopi”? Ada yang 5, 7 gelas bahkan 12 gelas sehari. Artinya itulah sejumlah rumah yg di sambangi oleh relawan setiap harinya. Kami relawan Kansa Pedulu yang berjumlah 12 orang membagi tim dengan tanggung jawab masing-masing. Satu orang bertugas setiap hari untuk menjaga tenda, selebihnya berdua atau bertiga turun kelapangan.

Seperti pagi ini, saya dengan kak Pramono Hadi melakukan pelatihan TOT di pesantren Bayyinul Ulum. Tim yang lain belum kembali ke tenda, dan teh Imas bertugas menjaga tenda, membersihkan tenda dan mempersiapkan makanan untuk kami semua.

Program Terapi Healing ini tidak hanya ditujukan untuk anak-anak, bahkan orang dewasa lebih membutuhkan. “Kami senang sekali ada program ini, tidak hanya untuk anak-anak, masak kami ikutan nyanyi dan gambar”, kata salah warga yg kami temui.

Melihat para orang tua dan anak-anak optimis dan semangat setelah terapi di tambah hilangnya rasa takut dan was-was, merupakan kebahagiaan tersendiri buat kami.  Cerita cerita silih berganti saat kami berkumpul di tenda, pengalaman apa dan kondisi seperti apa dan bagaimana hasil terapi selalu kami diskusikan.

Bahkan komentar komentar masyarakat, alhamdulillah semuanya antusias, menerima, dan berharap kami bisa lebih lama di sini.

” Jangan pulang cepat yaa…”

” Malam ini, tidur disini aja ya…”

” Ayoo mampir… Ayo.. ngopi”

Ini adalah kalimat yang sangat sering kami dengar, sambutan yang baik dan hangat oleh masyarakat desa Santong.

Undangan kerumah, undangan ke pengajian, ke sekolah, ke pesantren selalu ada, dan syukurnya semua relawan siap pakai dan sehat… Doakan kami sehat disini dan kompak selalu..

Salam rindu dari Lombok untuk yang di Batam.

Pin It on Pinterest

Share This