(13 Oktober 2018)

Oleh  Ami Faisal

Hari sabtu ini adalah hari ke 6 para relawan KANSA PEDULI berada di desa Santong, kecamatan khayangan Kabupaten Lombok Utara. Masih melanjutkan misi yang sama Program Traumatic  Healing bagi para korban pasca gempa.

Kali ini para relawan berkesempatan bersilaturrahim menyisir ke wilayah Dusun Mekar Sari, masih dalam kawasan Desa Santong. Setibanya di penghujung pertigaan jalan, kami mendapati Warung Mi YAMIN (Mie Ayam) dan memutuskan untuk membelinya, ya…maklum, di wilayah terdampak bencana yang meratakan hampir 99,9% bangunan, makanan sejenis mie ayam ini tergolong langka dan agak mewah serta menggoda lidah.

Kebetulan juga perut kami sudah mulai terserang rasa lapar dengan banyaknya aktivitas dari pagi hingga siang. Begitu tiba di warung, salah satu relawan memulai membuka dengan beberapa pertanyaan sekaligus memesan MIE YAMIN. Terjadilah percakapan diantara kami dan pemilik warung, singkat cerita ternyata pemilik warung ini seorang single parent, mempunyai 2 anak laki-laki dan satu perempuan.

Dan yang membuat kami terharu saat itu ketika si ibu bercerita bahwa 1 minggu pasca gempa, beliau bingung bagaimana cara melanjutkan usaha warung makannya setelah semua hancur, karna itulah jalan rejeki selama ini sebelum terjadi bencana. Akan membutuhkan modal yang cukup besar, biaya dari mana?? Sedangkan beliau masih harus menanggung biaya hidup dan biaya sekolah 1 anaknya yang masih kelas 5 SD.

Tapi sesuai janji Alloh bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya ketika seorang hamba juga mau meletakkan harapan, bahwa selama Sang Kuasa mengijinkan nyawa masih melekat pada jasad, menunjukkan bahwa jatah rejeki hamba itu masih ada. Dicurahkanlah rahmad yang Alloh utus melalui tangan seorang relawan. Lalu mengajari si ibu single parrent ini untuk memulai menyusun kembali sisa puing2 harapannya dengan berjualan MIE YAMIN ini.

Dimulai dengan cara membuat sendiri mie nya untuk memangkas biaya, mengajarkan resep ayam yang menjadi ciri khas, serta membuatkan konsep agar mie yang akan dijual bukan hanya mengandalkan rasa tetapi juga meninggalkan kesan bagi para penikmat nantinya.

Alhasil, terciptalah konsep MIE YAMIN, dimana setiap pembeli dipersilahkan membubuhkan sekedar nama ataupun tanda tangan pada banner yang telah disediakan.  Si malaikat yang menggagas konsep MIE YAMIN ini berharap, setiap tanda tangan yg mewarnai banner putih itu menjadi motivasi bagi si ibu single parent bahwa dia sedang tidak sendirian dalam melewati masa-masa krisis materi maupun psikologi akibat bencana.

Kemudian bagi para penikmat mie yang datang lalu membubuhkan tanda tangan nya, dia sedang diingatkan bahwa kebaikan yang dilakukan untuk orang lain walaupun mungkin dianggap kecil dan hal yang biasa, tetapi berefek sangat luar biasa bagi kehidupan orang lain yang menerimanya.

Ah…lagi-lagi kami para relawan mendapatkan pelajaran yang sangat luar biasa dari si ibu single parent dan Malaikat berwujud manusia yang Alloh utus jadi perantara bukti KuasaNya.

Jadi mari bersama berlomba-lomba menebar kebaikan, dalam bentuk apapun. Karena kualitas diri seseorang akan bisa dilihat dari seberapa bermanfaat dirinya untuk orang lain. Dan jangan lupa selalu menata hati, menjaga niat karena Alloh dalam setiap kebaikan yang dikerjakan.

 

WE SHARE, WE CHARE

#LombokBangkit

#TraumaticHealing

#MotivasiDiri

#PublicSpeaking

#KaryaAnakBangsa

Pin It on Pinterest

Share This